RSS

Manfaat Besar dibalik Clean Language

07 May

Clean Language alias “bahasa resik”, benar-benar merupakan suatu kata yang mengusik perhatian saya sejak awal. Hehehe, lucunya pada awalnya saya hampir rancu dengan Prime Language yang saya dapat dalam suatu pembelajaran NLP sebelumnya. Ternyata berbeda….

Pertama kali berurusan dengan Clean Language (CL) adalah saat saya ke London di tahun 2011, belajar Hypnosis Without Trance dengan James Tripp. Ya, hypnosis without trance (HWT), suatu disiplin yang mungkin orang Indonesia masih belum pernah dengar. Bahkan menurut James Tripp, istilah HWT biasanya akan ditanggapi dengan aneh oleh para “pakar” hypnosis lain, tanpa berusaha menyelaminya dahulu. Maklum, di luar negeri sana, banyak ahli hipnosis yang terlalu terhipnosis dengan konsep trance itu sendiri.

Saat mengajarkan HWT, James Tripp menggabungkan dengan konsep CL, dan efeknya ternyata menjadi lebih hipnotik, atau tepatnya lebih self hypnotic…  Ia juga mengembangkan salah satu teknik HWT-nya dengan konsep mentalism (sulap), dan sekaligus juga konsep Clean Space (CS), yakni teknik turunan CL yang menggunakan space (wilayah) untuk membantu Klien lebih merasakan metafornya secara kinestetik dan visual. Sangat mengesankan, dan makin menggoda untuk mempelajarinya.

Setelah, berlama-lama mempelajari secara mandiri, akhirnya awal April lalu -tiba juga kesempatan update ilmu lagi- dengan belajar langsung pada Penny Tompkins dan James Lawley. Alhamdulillah, memiliki sikap open mind memang diperlukan dalam pembelajaran, menghindarkan diri untuk tidak berpuas diri, menghindarkan dari hanya belajar dan update ilmu-ilmu NLP doang, atau hypnosis doang. Ilmu lain juga perlu terus di update, kalau perlu tiap tahun, insya’ Alloh.

Menyebut istilah CL, maka rasa takzim perlu dialamatkan kepada seorang unik bernama David Grove dari New Zealand. Dialah pencetus dari apa yang sekarang dikenal sebagai CL, CS dan Emerging Knowledge (EK). Dimulai saat ia bekerja dengan pasien trauma di tahun 1980-an ia melihat bahwa secara alamiah Klien lebih suka menceritakan pengalamannya secara metaforik dibandingkan daripada menjelaskan peristiwa traumatik itu sendiri. Jadi, ia bereksperimen dengan mendorong mereka untuk menggambarkan metafora secara lebih rinci. Hasil yang didapatkannya cukup mengejutkan, yakni seringkali trauma itu malah menghilang dengan sendirinya. Uniknya, David Grove lebih tertarik pada klien-kliennya dan membantu mereka, dibandingkan dengan ketertarikan menuliskannya. Satu-satunya buku yang ditulis adalah “Resolving Traumatic Memories“, co-author dengan B I Panzer; Irvington, di tahun 1989.

David Grove meninggal di 2008, untungnya cukup banyak orang yang sudah belajar padanya dan bisa melanjutkan penelitiannya. Salah satunya adalah Penny Tompkins dan James Lawley, dua orang NLP Trainer, yang terkesan dengan hasil karya David Grove dan akhirnya diizinkan untuk memodelnya. Akhirnya lahirlah Clean Modelling, karya mereka berdua. James dan Penny: adalah 2 dari beberapa tokoh yang sangat diperhitungkan sebagai pakar CL di dunia saat ini. Nama lain yang terkenal adalah : Wendy Sullivan, Judy Rees, Sue Knight, Angela Dunbar, Carol Wilson, dan lain-lain. Indonesia? Segera menyusul….

 

Clean Language dan Metaphor

Diperkirakan bahwa rata-rata orang menggunakan 1 metafora tiap 25 detik dalam bahasa sehari-hari. Seandainya Anda bersedia mulai benar-benar mendengarkan kata-kata yang diucapkan seseorang, maka anda akan menjumpai puluhan metafora mulai membanjir keluar dari mulutnya. Hehehe “membanjir keluar” adalah suatu metafora juga kan? Contoh lain: …dia memang keras kepala.., …kami merasa mentok.., …tak ada yang bisa melampaui ketinggian ilmu yang dimiliki, saya… merasa terbuai oleh pujiannya…, dan lain-lain….

Metafora adalah proses membandingkan satu jenis hal ke hal lain – merupakan bahasa asli dari pikiran bawah sadar. Jadi melalui metafora inilah, kita bisa memasuki bawah sadar secara diam-diam, menggunakan simbol-simbol yang dimengerti dengan baik oleh bawah sadar. Sedemikian powerfulnya, maka teknik metafora ini juga bisa kita jumpai di dalam kitab suci,  dipakai oleh pengiklan, politisi, salesman dan lain-lain, untuk mempengaruhi orang lain agar setuju dengan mereka. Ohya, sudah disebut di muka, klien juga mengucapkan permasalahannya dalam bentuk metafora, bahkan mereka juga menyebutkan outcome-nya dalam bentuk metafora. Membicarakan metafora, merupakan konversasi antar bahasa bawah sadar (klien dan fasilitator) yang akan mempermudah proses change-work di level bawah sadar.

Nah, bagi pembelajar Hypnosis atau NLP, sudah biasa tentunya bekerja dengan metafora, apalagi bagi yang sudah menguasai Ericksonian. Well, tapi jangan terkejut, apa yang dilakukan David Grove sungguh amat berbeda dengan Milton Erickson. Jika Milton Erickson, memakai metafora (ciptaannya) untuk mempengaruhi realitas internal si Klien, maka sebaliknya, David Grove mengajarkan pada kita untuk meng-utilisasi metafora klien sepenuhnya (metafora autogenik – metafora yang dihasilkan oleh klien). Metafora ini tidak boleh kita kontaminasi dengan pendapat kita, metafora kita, pemahaman kita, karena bisa menjadi tidak client centered.

David Grove telah menyadarkan pada kita, dengan menemukan cara baru untuk bekerja dengan metafora klien sepenuhnya. Ketika Anda menangkap metafora yang digunakan oleh Klien, maka anda bisa membantu mereka untuk memperhatikan dan memahaminya, dan menemukan solusi yang diperlukannya. Kata clean (bersih) digunakan karena fasilitator hanya menggunakan pertanyaan terbuka dan metafora yang sifatnya universal: ruang, waktu dan bentuk, dan dikombinasikan dengan bahasa klien sendiri. Dengan cara ini maka fasilitator akan terhindar dari meng”kotori” atau mengkontaminasi lansekap metafora klien.

Melalui CL , seorang Fasilitator akan mengajukan pertanyaan untuk menjelajahi medan pemikiran Klien. Langkah-langkah dasar dari teknik ini sangat sederhana, sekalipun demikian ada suatu paradigma penting yang perlu dipahami saat menerapkannya, yakni : sudut pandang seorang Klien adalah fokus utama, alias client centered, dalam arti yang sebenarnya.

 

12 Pertanyaan Dasar yang dipakai dalam Clean Language 

Berikut adalah 12 Pertanyaan paling mendasar yang biasa dipakai dalam sesi Clean Language, dibagi dalam 5 tujuan percakapan, saya kutip dari Angela Dunbar. Beberapa ahli lain, seperti Penny & James, Sue Knight, maupun Wendy Sullivan mengorganisasikan pertanyaan dasar dengan cara yang berbeda.

  • Untuk mengetahui apa yang diinginkan Klien (menemukan outcome):
    • 1. “Apa yang akan Anda inginkan terjadi?”
  • Untuk mengembangkan kesadaran:
    • 2. Mendapatkan informasi lebih mendetail: “(Kata Klien) yang semacam apa, (kata Klien) itu?”
    • 3. Mengetahui Lokasi: “Dimana keberadaan / lokasi (kata Klien)”
    • 4. Memperluas kesadaran: “Apakah ada hal lain tentang (kata Klien)?”
    • 5. Memicu keluarnya metafora: “(Kata Klien) itu, seperti apa?”
  • Untuk memahami gambaran yang lebih besar:
    • 6. “Lalu apa yang terjadi?”
    • 7. “Apa yang terjadi sebelumnya?”
    • 8. “Dari mana datangnya (kata Klien) itu?
  • Untuk mengeksplorasi hubungan dan koneksi:
    • 9. “Dan apakah ada hubungan antara (kata Klien tentang ‘x’) dan (kata Klien tentang ‘y’)?”
    • 10. “Dan ketika (kata Klien tentang “x”) apa yang terjadi pada (kata Klien tentang “y”)?”
  • Untuk mengetahui bagaimana tujuan dapat dicapai:
    • 11. “Apa yang perlu terjadi untuk/agar (tujuan Klien)?”
    • 12. “Dan bisakah (kata Klien)?”

 

Nah, sejalan dengan pemakaian berbagai pertanyaan CL tadi, klien akan menemukan sendiri suatu insight solusi dari permasalahan yang dihadapi, atau goal yang tengah dikejarnya. Sungguhh menarik disini bahwa campur tangan si Fasilitator benar-benar minimal sekali. Fasilitator hanya menstimulasi bawah sadar si Klien dengan berbagai pertanyaan yang sistematis dan clean.

Contoh:

  • Klien (K): Saya merasa bahwa karier saya mentok.
  • Fasilitator (F) : … dan Anda merasa karier mentok. Dan ketika … karier mentok, apa yang akan anda inginkan terjadi? (1)
  • K : Saya ingin keluar dari kementokan ini secepatnya.
  • F : … dan Anda ingin keluar dari kementokan, secepatnya. … Dan ketika keluar dari kementokan secepatnya, lalu apa yang terjadi? (6)
  • K : Saya merasa lega
  • F : … dan Anda merasa lega. … Dan ketika lega, lega yang semacam apa, lega itu? (2)
  • K : Merasa plong
  • F : … dan Anda merasa plong, …dan ketika plong, dimana lokai rasa plong itu? (3)
  • K : Di dada.
  • F : … dan Anda merasa plong, di dada. Dan ketika plong di dada itu, dimana tepatnya letaknya plong yang didada itu? (3)
  • K : Di jantung (sambil menunjuk dada kirinya).
  • F :  …dan Anda merasa plong, di jantung (sambil menunjuk dada kiri klien), apakah ada hal lainnya tentang plong di jantung? (4)
  • K : Ya, rasanya seperti keluar dari kotak yang membatasi diri.
  • F : … dan rasanya seperti keluar dari kotak yang membatasi diri. Dan ketika keluar dari kotak yang membatasi diri, keluar yang semacam apakah keluar itu? (2)
  • K : Terbebas
  • F :… dan Anda terbebas. Dan ketika terbebas, dimana tepatnya letaknya keberadaan terbebas itu? (3)
  • K : Disini (Klien menunjuk di depan dadanya)
  • F : .. dan anda terbebas, disini (sambil menunjuk lokasi yang ditunjuk klien), dan ketika terbebas disini, apakah ada hal lain tentang terbebas disini? (4)
  • K : Ini yang saya inginkan.
  • F : … dan ini yang anda inginkan. Dan ketika yang anda inginkan, terbebas, disini, apa yang perlu terjadi agar Anda terbebas disini? (11)
  • K : Saya perlu mengambil keputusan untuk menilai ulang karier saya.
  • F : … dan Anda perlu mengambil keputusan untuk menilai ulang karier. Dan ketika mengambil keputusan untuk menilai ulang karier, bisakah Anda melakukannya? (12)
  • K : Ya saya bisa.

 

Percakapan itu bisa berkembang ke arah yang berbeda, tergantung dari pertanyaan yang diajukan oleh Fasilitator. Kemana sebaiknya fasilitator mengembangkan pertanyaan? Jawabannya adalah kearah “titik berat” yang ditekankan oleh Klien dalam pembicaraannya.

Untuk tujuan lain, misalkan suatu proses terapi, coaching, goal setting, listening skill, dan lain-lain. Maka kombinasi dari berbagai pertanyaan itu akan berbeda sesuai dengan outcome-nya. Lain kali, akan kita jelaskan di artikel yang berbeda, sekalipun, saat Anda ikuti pelatihannya akan lebih jelas dan mudah dilakukan.

===

 

Bagi para coach yang membaca tulisan ini, tentu saja anda langsung bisa mengerti mengapa CL ini sangat cocok untuk proses coaching. CL ini benar-benar mengawal suatu “proses” bukan “konten”, dan menghindari semaksimal mungkin campur tangan, pendapat, kontaminasi pemikiran si fasilitator. 

Jika dilakukan dengan baik, CL akan berjalan dengan menyenangkan. Namun CL juga bisa menjadi kurang mengasyikkan jika fasilitator tidak pandai menjalin rapport dengan Klien. Sebab pertanyaannya bisa terasa sebagai mengganggu dan bertele-tele. Nah, sikap yang dianjurkan dalam menjalankan CL adalah:

  • Bangun rapport mendalam
  • Set up situasi dengan meminta Klien menentukan bagaimana posisi relatif antara tempat duduk (atau tempat berdiri) si Klien dan Fasilitator.
  • Ajukan pertanyaan dengan santun.
  • Dengarkan jawabanya dengan penuh perhatian, perhatikan nada dan bahasa tubuh (khususnya gesture).
  • Tetap fokus pada Klien, dan hindari menggunakan asumsi Anda sendiri atau pendapat anda sendiri
  • Ajukan pertanyaan Clean Language untuk mengeksplorasi lebih jauh apa yang Klien katakan.
  • Gunakan kata-kata, nada yang sama dengan Klien. Arahkan gesture tangan Anda kearah yang sama yang ditunjukkan oles gesture Klien (analog marking Klien). Jangan lakukan gesture mirroring, tapi utilized analog marking dari Klien.
  • Jalankan dengan nyaman dan sabar.
  • Tugas Anda bukan mengerti apa metaphor klien, namun membantu klien untuk memproses medan landskap metafornya sehingga menghasilkan suatu Emergent Knowledge.

 

Demikianlah, artikel pertama tentang CL, akan kita lanjutkan lebih mendalam melalui artikel yang lain. Misalkan, bagaimana menggunakan CL dalam 7 area di dalam pekerjaan atau bisnis.

Segera.

http://portalnlp.com/manfaat-besar-menanti-dari-clean-language/

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2013 in Information

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: