RSS

Linguistik NLP: Mencerna Refleksi Suatu Do’a

07 May

Anthony Robbins dengan penuh semangat di berbagai seminarnya, senantiasa menekankan: The quality of your life is the quality of your communication!” Kemampuan komunikasi benar-benar tidak bisa dipungkiri, menjadi kendaraan penting untuk sukses. Dalam NLP, istilah komunikasi sering disederhanakan dengan mudah dengan kata ‘linguistik’, dan hal ini merupakan salah satu pembahasan sentral dalam NLP. Kecerdasan linguistik, merupakan kecerdasan yang luar biasa penting untuk menentukan cara kita berhubungan dengan orang lain dan diri sendiri.

Kata-kata yang diucapkan oleh manusia adalah refleksi dari pemikiran yang dia lakukan. Dalam NLP, kata-kata yang diucapkan disebut sebagai surface structure, dan pemikiran (representasi lengkap tentang dunia) yang berwujud kata-kata dalam pikiran disebut sebagai deep structure. Artinya, deep structure akan termanifes dalam surface structure, alias pemikiran kita akan termanifes dalam perkataan kita. Baik pemikiran yang disadari maupun yang tidak disadari atau dibawah kesadaran.

Belakangan ini, sembari mengamati berbagai ucapan ultah yang beredar di social media, seperti facebook dan twitter pada umumnya. Saya melihat kecenderungan peredaran do’a yang sama dan bahkan memiliki pola-pola refleksi bawah sadar yang menarik untuk didiskusikan.

(Note: Tulisan ini jauh dari niatan menggurui: mana yang benar dan salah. Jadi tulisan ini khusus mengulas bagaimana pola bawah sadar seseorang saat mengucapkan doa.)

 

Contoh 1

Misalkan salah satu ucapan yang saya baca di Facebook mengenai ucapan ulang tahun, memiliki pola demikian:

“Selamat Ulang tahun, semoga Tuhan di atas sana senantiasa memberikan …. (dst)”

Secara linguistic NLP, maka pemberi do’a ini menunjukkan bahwa dirinya memiliki konsep bahwa keberadaan Tuhan letaknya ada di atas. Artinya, yang bersangkutan tidak memiliki konsep bahwa Tuhan juga hadir di sini, diantara kita. Ini adalah proyeksi bawah sadar dari si pemberi doa. Mungkin saja, pemberi doa ini akan menyangkal: “nggak kok, aku yakin Tuhan ada dimana-mana”.

Namun sayangnya, tersirat dari kalimatnya, bagaimana bawah sadarnya memiliki konsep mengenai keberadaan Tuhan, di atas sana, yang dirasanya berjarak jauh dengan dirinya.

 

Contoh 2

Ada lagi ucapan duka cita:

“Ikut berbela sungkawa, semoga arwahnya diterima Tuhan di sisiNya, …….(dst)”

Secara linguistic, pengucap doa ini , menganggap bahwa Tuhan memiliki dimensi “sisi”. Menunjukkan keyakinan bahwa sifat Tuhan memiliki bentuk tertentu, yang memiliki sisi. Saya tidak ingin mengadili, apakah menganggap Tuhan ini memiliki “sisi” adalah suatu yang benar atau salah? Saya khusus ingin menunjukkan bahwa: pengucap doa itu mempercayai adanya “sisi” dari Tuhan. Mungkin bisa jadi, dalam agama tertentu, memang Tuhan memiliki ‘sisi’.

 

Contoh 3

Pada saat orang meninggal dunia, seringkali do’anya demikian:

“Mari kita do’akan almarhum yang pergi ke alam baka, meninggalkan kita semua….. (dst)”

Dalam do’a ini, secara bawah sadar, pengucap do’a meyakini bahwa saat seseorang meninggal dunia, maka almarhum itu “pergi” ke suatu tempat. Nah, disini, mari kita tinjau kembali pengertian bahwa manusia adalah ciptaanNya. Nah, apabila tugas kita sudah selesai di dunia ini, apakah tidak lebih cocok disebut sebagai “kembali kepadaNya”? Atau Anda lebih klop  mengatakan “dipanggil kembali oleh Nya”.

 

Contoh 4

Seorang pemimpin do’a dalam suatu acara. Biasanya mengucapkan ini saat memimpin do’a:

“Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa’a kepada Tuhan Yang Maha Esa…… (dst”

Menarik disini, dipilih kata ‘memanjatkan’ do’a. Nah, kata memanjatkan ini jelas-jelas merefleksikan minimal 2 konsep bawah sadar dari si pendo’a:

  1. Tuhan ada di atas.
  2. Do’a dikirmkan dengan lambat (memanjat adalah gerakannya cenderung lambat).

Poin nomer satu tidak akan kita bahas lagi, karena sudah dibahas “di atas”, nah untuk poin ke dua ini menarik sekali. Entah bagaimana awalnya dulu, kok istilah memanjatkan ini sangat populer di Indonesia. Mungkin berbau istilah melayu untuk memunculkan kesan puitis…?

Kalau saya disuruh memilih, dan sering saya ucapkan di forum-forum pelatihan saya, saya mengajak untuk membisikkan lembut do’a kita kepada Tuhan YME. Kita sama tahu, bahwa: berbisik merupakan refleksi bahwa kita berada dekat dengan kawan bicara kita. Jadi berdo’a dengan berbisik lembut, merupakan cara kita meyakini bahwa kita berada dekat denganNya, dan sekaligus kita berkomunikasi dengan Nya secara lembut. Bukankah Dia suka pada hal-hal yang lembut?

Selain itu, ‘berbisik’ tidak menunjukkan suatu kelambatan proses, beda halnya dengan memanjat. Kata memanjat merefelksikan sesuatu yang berupa gerakan lambat, apalagi bagi yang merasa nggak bisa memanjat, jangan-jangan saat ia memanjatkan do’a, maka ia tidak yakin bahwa do’anya akan sampai ke Tuhan….

 

Demikianlah,

Beberapa pembaca, mungkin ingat bahwa di awal tulisan ini dituliskan bahwa kecerdasan linguistik, merupakan kecerdasan yang luar biasa penting untuk menentukan cara kita berhubungan dengan orang lain dan diri sendiri. Nah, dengan tulisan ini, serasa kita boleh tambahkan pula bahwa kecerdasan linguistik juga penting dalam berhubungan dengan Pencipta kita.

http://portalnlp.com/linguistik-nlp-mencerna-refleksi-suatu-doa/

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2013 in Information

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: